Contoh Narrative Text Tentang Sarip Tambak Oso Dan Artinya

Halo sobat dan adik-adik semua, kakak yakin sekarang kamu sedang menikmati liburan ya di rumah. Nah, untuk menemani hari libur kamu, kakak sudah menyiapkan sebuah contoh narrative text Bahasa Inggris yang sangat menarik. Cerita kali ini sudah kakak lengkapi juga dengan artinya dalam Bahasa Indonesia lho, jadi kamu nggak akan kesulitan deh untuk memahami isi cerita nya. Contoh narrative text kali ini akan mengangkat sebuah cerita rakyat populer dari Jawa Timur yang berjudul Sarip Tambak Oso. Meski saya baru pertama kali mendengar kisah ini, namun ternyata cerita tentang tokoh dengan nama Sarip Tambak Oso ini merupakan legenda yang populer di Jawa Timur dan sering sekali ditampilkan dalam acara tradisional Ludruk.

Tulisan kali ini kakak kelompokkan kedalam 20 Contoh Narrative Text Panjang Dalam Bentuk Cerita Rakyat. Buat adik-adik yang selama ini merasa kesulitan untuk menemukan sumber bacaan yang berisi cerita rakyat nusantara silahkan kunjungi kumpulan artikel tersebut ya. Di sana kamu akan menemukan berbagai judul kisah populer yang sudah sering kamu dengar dan baca selama ini dan juga yang mungkin belum pernah kamu temui sebelumnya. Kalau kamu rajin membaca contoh cerita rakyat dalam Bahasa Inggris seperti yang kakak sediakan ini, kemampuan Bahasa Inggris mu dan juga pengetahuanmu seputar kebudayaan Indonesia tentu akan meningkat dengan sangat baik. - KakDikta.blogspot.co.id

Contoh Narrative Text Tentang Sarip Tambak Oso
Google Image - Contoh Narrative Text Tentang Sarip Tambak Oso Dan Artinya

Contoh Narrative Text Tentang Sarip Tambak Oso

Sarip Tambak Oso adalah tokoh yang muncul pada jaman penjajahan Belanda di Indonesia. Jika kita perhatikan, kisah nya mirip sekali dengan cerita Si Pitung yang berasal dari Betawi, dimana sang tokoh utama dalam cerita tersebut merampok kekayaan dari rumah orang kaya yang bekerja sama dengan pihak pemerintah Belanda, kemudian membagikan harta rampasan tersebut pada masyarakat miskin yang memerlukan bantuan. Meski begitu, tapi tetap saja ada perbedaan antara kedua cerita tersebut. Yuk kita simak selengkapnya cerita tentang Sarip Tambak Oso dalam contoh narrative text Bahasa Inggris berikut ini.

Sarip Tambak Oso
Long long time ago, during the colonial age in Indonesia, there lived a man by the name Sarip in Tambak Oso village. He lived there with his mother and his brother, Mualim. His father had passed away when he was a kid. His father was a master of martial art who possesed a supernatural power. Before his death, Sarip's father gave him a piece of red clay that he called as "Lemah Abang" in Javanese language, and he asked Sarip and his mother to eat the red clay. The clay was a magical object that allowed Sarip to link his soul to his mother soul, this way, Sarip would never be dead as long as his mother stayed alive although he was killed a thousand times a day.
The village was divided into two parts separated by a river, each part was guarded by a skillful fighter. The east side of the river was called Wetan Kali and it was guarded by Sarip and the west part of the river was called Kulon Kali and it was guarded by Paidi, a man with an excellent skill in fighting who possesed an heirloom that he called as Jagang Baceman. They respected each other teritories and never tried to disturb each other business.
Sarip and his family were oppressed by the colonial government and its cronies. This condition had forged him to be a strong-looking and impatient man, but he was always cared to the sufferings of the people in his village. He also loved his mother so much and he always wanted to make a better life for his mother and that was the reason why he decided to leave his mother alone and went to Gedangan village in order to try his fortune.
A year after Sarip left the village, his mother decided to allow his uncle, Ridwan, to manage a pond that Sarip's father left for him because she was unable to do it by herself. His uncle was supposed to pay the tax of the pond to the colonial government and also share a few of the profit to Sarip's mother, but he didn't do it. Mr. Ridwan turned out to be a cunning person who wanted to claim the pond along with its profit for himself. He didn't even lend any money to Sarip's mother to pay the tax to the colonial government.
The colonial government sent the village chief to collect the tax from Sarip's mother because she didn't pay it until it was over the due date. When the chief arrived at Sarip's house, Sarip's mother told the village chief that she didn't have any money to pay the tax. The chief got angry when he heard that, so he threatened to hurt her. She begged for additional time but the village chief didn't want to hear any reason from her. The village chief slapped Sarip's mother on the cheek and she fell to the ground. Unexpectedly, Sarip was just returned to his village and he saw the incident. He ran toward the village chief and kicked his chest and the chief fell to the ground. Sarip didn't stop right there, he jumped on the village chief body and punch him repeatedly until the village chief stopped breathing.
Sarip helped his mother to stand up and brought her to their house. His mother cried and told him everything, including the story about his cunning uncle. Sarip got mad to hear the story, but he realized that he had to go from the village, because he was a fugitive at that moment for what he did to the village chief. So he told his mother to stay at home and he explained that he had to go for a while so the authorities couldn't catch him. He gave his mother some money before he left the village and he said good bye to his mother. When he was on the run, Sarip assembled a group consist of his loyal friends. Together, they rob some house of colonial government agent and its cronies, after that they share the spoils to the poor. The colonial government started to be uneasy of the condition, so they sent some skillful fighter to beat Sarip Tambak Oso but no one managed to do that.
After a couple of month on the run, Sarip decided to go back to his hometown. When he arrived at his village, he went to his uncle's house. He asked his uncle to give him what his uncle had promised to his mother. But his uncle refused to give him what he wanted. Sarip was so angry to hear the statement, he was about to attack him when suddenly someone grab his hand and pushed him back. The person was Paidi, the guardian of Kulon Kali.
Sarip was very surprised that Paidi was working to protect uncle Ridwan. It turned out that Paidi was wiling to do that because Paidi was in love with uncle Ridwan's daughter, Saropah. It gave him no choice but to protect uncle Ridwan. None of them was wiling to surrender and the fight was inevitable. They had a fierce fight but in the end Paidi was able to defeat Sarip by using his heirloom, Jagang Baceman. After that, he threw Sarip's body into the river.
Sarip's body drifted away following the river flow until it ended up in front of his mother who happened to be there because she was washing her clothes at the river. She jumped into the river and dragged Sarip's body to the river bank. She cried when she saw the condition of Sarip and she hugged him. She scream and said "Sarip, tangio le.. durung wayahe awakmu mati" (Sarip, wake up son.. it is not your time yet). Suddenly Sarip resurrected from the death. His mother brought him back to their house because he still needed time for his recovery.
After a couple of day, Sarip decided to go back to his uncle house for a revenge. When he arrived there everyone was shocked to find out that he was still alive. Mr.Ridwan asked Paidi to fight and defeat Sarip for the second time. Paidi and Sarip had a fierce duel for the second time, but this time Sarip managed to defeat Paidi.
Mr. Ridwan ran away and reported the incident to the authorities of colonial government. He also leaked the secret of Sarip's supernatural power. When the authorities had found out the weakness of Sarip, they sent their troops to catch Sarip's mother and after that they killed her. This condition made Sarip to be vulnerable. After that, the troops went to catch Sarip, and when they found him, they fire all of their weapon to Sarip's body and he fell to the ground.

Terjemahan Contoh Narrative Text Tentang Sarip Tambak Oso

Sarip Tambak Oso
Pada jaman dahulu kala, selama masa penjajahan di Indonesia, hiduplah seorang pria dengan nama Sarip di desa Tambak Oso. Dia tinggal di sana bersama dengan ibu dan kakak nya, Mualim. Ayah nya telah meninggal waktu dia masih anak-anak. Ayah nya merupakan ahli bela diri yang memiliki kekuatan gaib. Sebelum kematiannya, ayah Sarip memberi nya sepotong tanah liat merah yang ia sebut sebagai "Lemah Abang" dalam Bahasa Jawa, dan dia meminta Sarip dan Ibu nya untuk memakan tanah liat itu. Tanah liat itu merupakan benda gaib yang memungkinkan Sarip menghubungkan jiwa nya pada jiwa ibu nya, dengan begini, Sarip tidak akan pernah mati selama ibu nya tetap hidup meskipun dia di bunuh ribuan kali dalam satu hari.
Desa itu dibagi menjadi dua bagian yang dipisahkan oleh sungai, masing-masing wilayah itu dijaga oleh seorang petarung yang sangat ahli. Sisi timur sungai itu disebut Wetan Kali dan itu dijaga oleh Sarip dan bagian barat dari sungai itu disebut Kulon Kali dan itu dijaga oleh Paidi, seorang pria dengan kemampuan bertarung yang sangat baik yang memiliki pusaka yang disebutnya sebagai Jagang Baceman. Mereka saling menghargai wilayah satu dan yang lainnya dan tidak pernah mencoba mengganggu urusan masing-masing.
Sarip dan keluarga nya selalu ditindas oleh pemerintah penjajah dan antek-antek nya. Keadaan ini telah menempa nya menjadi seorang pria dengan penampilan yang kuat dan sifat yang tidak sabaran, namun dia selalu perduli pada penderitaan orang-orang di desa nya. Dia juga sangat menyayangi ibu nya dan dia selalu ingin memberikan kehidupan yang lebih baik bagi ibu nya dan itu merupakan alasan mengapa dia memutuskan untuk meninggalkan ibu nya sendirian dan pergi ke desa Gedangan dengan tujuan mencoba peruntungannya.
Satu tahun setelah Sarip meninggalkan desa, ibu nya memutuskan untuk mengijinkan pamannya, Ridwan, untuk mengelola sebuah tambak yang diwariskan ayah Sarip karena dia tidak mampu mengurus nya sendirian. Sang paman seharusnya membayarkan pajak dari tambak itu kepada pemerintahan penjajah dan juga berbagi sedikit hasil dari tambak tersebut pada ibu nya Sarip, namun dia tidak melakukannya. Pak Ridwan ternyata merupakan orang yang licik yang ingin mengambil tambak itu beserta seluruh hasilnya bagi dirinya sendiri. Dia bahkan tidak meminjamkan uang sedikit pun kepada ibu nya Sarip untuk membayar pajak pada pemerintah penjajah.
Pemerintah penjajah mengirim kepala desa untuk mengambil pajak dari ibu nya Sarip karena dia tidak juga membayar hingga melebihi tanggal jatuh tempo nya. Ketika sang kepala desa sampai di rumah Sarip, ibu nya Sarip mengatakan pada sang kepala desa bahwa dia tidak memiliki uang sama sekali untuk membayar pajak. Sang kepala desa marah saat dia mendengar hal itu, jadi dia mengancam akan menyakiti nya. Ibu nya Sarip memohon tambahan waktu namun sang kepala desa tidak mau mendengar alasan apapun dari nya. Sang kepala desa itu menampar ibu nya Sarip di bagian pipi dan dia terjatuh ke tanah. Secara tak diduga-duga, Sarip baru saja kembali ke kampung nya dan dia melihat kejadian itu. Dia berlari ke arah kepala desa itu dan menendang dada nya dan sang kepala desa itu pun jatuh ke tanah. Sarip tidak berhenti sampai disitu, dia melompat ke atas tubuh kepala desa itu dan memukul nya berulang-ulang hingga sang kepala desa itu berhenti bernapas.
Sarip membantu ibu nya berdiri dan membawa nya ke rumah mereka. Ibu nya menangis dan menceritakan semuanya pada nya, termasuk cerita tentang pamannya yang licik. Sarip sangat marah mendengar cerita itu, namun dia menyadari bahwa dia harus pergi dari desa itu, karena pada saat itu dia adalah seorang buronan atas apa yang telah dia lakukan terhadap kepala desa itu. Jadi dia meminta ibu nya untuk tetap tinggal di rumah dan dia menjelaskan bahwa dia harus pergi untuk sementara waktu agar pihak berwajib tidak bisa menangkapnya. Dia memberi sedikit uang pada ibu nya sebelum dia pergi dari desa itu dan dia mengucapkan selamat tinggal pada ibu nya.
Saat sedang dalam pelarian, Sarip membentuk sebuah grup yang terdiri dari teman-teman setia nya. Bersama-sama, mereka merampok beberapa rumah agen pemerintah penjajah dan antek-antek nya dan setelah itu mereka membagikan harta rampasan itu pada orang miskin. Pemerintah penjajah mulai resah dengan keadaan itu, jadi mereka mengirimkan beberapa petarung handal untuk mengalahkan Sarip Tambak Oso namun tidak satupun berhasil melakukan itu.
Setelah beberapa bulan dalam pelarian, Sarip memutuskan untuk kembali ke kampung halaman nya. Ketika dia tiba di desa itu, dia pergi ke rumah paman nya. Dia meminta paman nya untuk memberikan apa yang paman nya telah janjikan pada ibu nya. Namun paman nya menolak memberikan apa yang dia mau. Sarip sangat marah mendengar pernyataan itu, dia baru saja akan menyerang paman nya ketika tiba-tiba seseorang menangkap tangannya dan mendorongnya mundur. Orang itu adalah Paidi, penjaga Kulon Kali.
Sarip sangat terkejut saat mengetahui bahwa Paidi bekerja untuk melindungi paman Ridwan. Ternyata Paidi bersedia melakukan hal itu karena Paidi jatuh cinta pada anaknya paman Ridwan, si Saropah. Hal itu membuatnya tidak memiliki pilihan lain kecuali melindungi paman Ridwan. Tidak satupun dari mereka bersedia mundur dan pertarungan pun tak terhindarkan. Mereka bertarung dengan sengit namun pada akhirnya Paidi berhasil mengalahkan Sarip dengan menggunakan pusaka miliknya, Jagang Baceman. Dia membuan tubuh Sarip ke sungai.
Tubuh Sarip hanyut mengikuti aliran sungai hingga ia berhenti di depan ibu nya yang kebetulan sedang berada di sana karena dia sedang mencuci pakaian di sungai. Dia melompat ke dalam sungai dan menyeret tubuh Sarip ke tepi sungai. Dia menangis ketika dia melihat keadaan Sarip dan memeluknya. Dia berteriak dan berkata "Sarip, tangio le.. durung wayahe awakmu mati" (Sarip, bangun nak.. belum saatnya kamu mati). Tiba-tiba Sarip bangun dari kematian. Ibu nya membawa nya kembali ke rumah mereka karena dia masih memerlukan waktu untuk pulih.
Setelah beberapa hari, Sarip memutuskan untuk kembali lagi ke rumah pamannya untuk membalas dendam. Ketika dia tiba di sana, semua orang terkejut saat mengetahui bahwa dia masih hidup. Pak Ridwan meminta Paidi untuk bertarung dan mengalahkan Sarip untuk kedua kali nya. Paidi dan Sarip bertarung secara sengit untuk kedua kali nya, namun kali ini Sarip berhasil mengalahkan Paidi.
Pak Ridwan melarikan diri dan melaporkan kejadian ini pada pihak berwajib dari pemerintah penjajah. Dia juga membocorkan rahasia kekuatan gaib milik Sarip. Ketika pihak berwajib telah mengetahui kelemahan Sarip, mereka mengirimkan pasukan untuk menangkap ibu nya Sarip dan kemudian mereka membunuh nya. Keadaan ini membuat Sarip menjadi mudah di serang. Setelah itu pasukan pemerintah penjajah pergi untuk menangkap Sarip, dan saat mereka menemukannya, mereka menembakkan semua senjata mereka ke tubuh Sarip dan seketika dia jatuh ke tanah.

Seperti itulah contoh narrative text tentang Sarip Tambak Oso yang berasal dari Jawa Timur, kakak harap sobat dan adik-adik terhibur dan mendapat pengetahuan baru setelah membaca tulisan kakak kali ini. Terimakasih banyak untuk waktu yang kamu luangkan untuk membaca tulisan ini hingga selesai, sampai ketemu lagi dalam postingan menarik lainnya dan jangan lupa baca juga Contoh Narrative Text Tentang Putri Pandan Berduri.

Referensi:
  1. Sarip Tambak Oso - https://id.wikipedia.org/wiki/Sarip_Tambak_Oso - Diakses tanggal 28 Maret 2018
  2. Sarip Tambak Oso, Jagoan dari Gedangan Sidoarjo - https://www.kaskus.co.id/thread/519e3fece374b41845000001/sarip-tambak-oso-jagoan-dari-gedangan-sidoarjo/ - Diakses tanggal 28 Maret 2018

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »